Pernah nggak sih kamu ngerasa hidup ini kayak lagi scrolling feed Instagram yang nggak ada habisnya? Terlalu cepat, penuh distraksi, sampai kita lupa apa yang sebenarnya penting buat diingat. Nah, di tengah gempuran konten instan yang "sekali lihat lalu hilang", ada sebuah oase yang justru mengajak kita buat berhenti sejenak. Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah Kalimantan Timur baru saja bikin gebrakan yang cukup bikin telinga kita "terdengar". Mereka bakal memfasilitasi pameran seni rupa tunggal dari seorang maestro kawakan, Cadio Tarompo.
Kalau kamu membayangkan pameran seni itu cuma kumpulan lukisan membosankan yang dipajang di tembok putih polos, buang jauh-jauh pikiran itu. Pameran yang bertajuk "Jejak Waktu: 55 Tahun Perjalanan dalam Karya" ini bukan sekadar pameran, melainkan sebuah mesin waktu. Bayangkan kamu sedang membongkar kotak tua di gudang kakekmu—isinya bukan cuma barang bekas, tapi potongan memori, keringat, dan cerita tentang siapa kita sebenarnya. Pameran ini rencananya bakal digelar di Kompleks Kantor BPK Kaltim, Jalan Rifadin, Samarinda, pada 27 Juli 2026.
Seni Itu Seperti "Hard Drive" Peradaban yang Berjalan
Kepala BPK Kaltim, Lestari, menjelaskan kalau kegiatan ini bukan cuma soal memamerkan keindahan visual. Ibarat sebuah komputer, karya seni itu adalah hard drive atau penyimpanan data yang merekam segala sesuatu yang terjadi di masa lalu. Kalau kita kehilangan hard drive ini, kita kehilangan akses ke data "siapa kita". Lestari menegaskan bahwa Kementerian Kebudayaan memang sedang gencar-gencarnya memberikan dukungan penuh. Ini bukan cuma proyek "pajangan" di pusat, tapi juga sampai ke Unit Pelaksana Teknis (UPT) di daerah-daerah.
Mengapa seni rupa? Karena seni rupa itu bahasa yang paling jujur. Dia nggak butuh subtitle. Saat kamu melihat lukisan, otakmu langsung memproses emosi tanpa perlu baca panduan manual yang tebal. Dengan memfasilitasi maestro seperti Cadio Tarompo, pemerintah sebenarnya sedang berusaha mengamankan "data sejarah" agar nggak menguap begitu saja ditelan zaman. Kalau diibaratkan, ini adalah upaya pemerintah untuk memelihara "DNA Budaya" agar generasi Z dan Alpha punya referensi nyata tentang estetika yang pernah berjaya di masa lalu.
Siapa Sih Cadio Tarompo? (Bukan Pelukis Biasa, Bro!)
Kalau kamu baru dengar nama Cadio Tarompo (atau nama aslinya Ariyadi), kamu wajib tahu kalau beliau ini bukan pelukis "kaleng-kaleng". Lahir di Sengkang pada 27 Juli 1971, beliau adalah tipe seniman yang belajar secara otodidak. Ingat, otodidak itu ibarat orang yang belajar main gitar cuma dari dengerin lagu tanpa pernah ikut kursus formal—hasilnya seringkali jauh lebih unik karena nggak terikat aturan kaku.
Yang bikin Cadio Tarompo ini spesial sampai level internasional adalah teknik "warna klise" atau "negatif" miliknya. Coba bayangkan kamu melihat lukisan di kanvas, tapi ketika kamu arahkan kamera HP dengan filter negatif, lukisan itu malah terlihat jauh lebih hidup, detail, dan terasa "nyata" di depan mata. Ini seperti sebuah plot twist dalam sebuah film thriller; kamu pikir itu cuma lukisan biasa, eh pas dilihat dari sudut pandang lain, ternyata ada dimensi tersembunyi.
Karya-karyanya sudah melanglang buana sampai ke Jerman, Singapura, China, Malaysia, Hong Kong, hingga Vietnam. Kalau seniman sudah sampai ke level Eropa, itu artinya karyanya punya "frekuensi" yang bisa diterima oleh mata dunia. Dia bukan cuma melukis objek, dia melukis "nyawa".
Mengapa Pameran Ini Penting Buat Generasi Digital?
Di dunia yang serba digital ini, kita seringkali merasa "kosong" karena nggak punya keterikatan dengan akar budaya. Pameran retrospektif 55 tahun perjalanan Cadio Tarompo ini bisa jadi pengingat kalau di balik kemajuan IKN (Ibu Kota Nusantara) yang super modern, ada fondasi budaya yang sangat kuat. Kamu bisa cek juga bagaimana seni dan budaya Kaltim diperkenalkan hingga ke Swiss sebagai bukti kalau identitas daerah kita itu punya nilai jual yang tinggi di kancah global.
Bayangkan saja, selama 30 tahun lebih berkarya, Cadio sudah melahirkan ratusan karya. Mulai dari media kanvas, dinding, sampai kayu ulin. Lukisan-lukisannya seperti "Potensi" (2014) dan "Selamat Tinggal Corona" (yang dibuat saat pandemi) bukan cuma sekadar cat di atas kain, tapi catatan sejarah. Saat pandemi kemarin, dunia rasanya seperti "macet total" karena server kehidupan kita down. Lukisan Cadio adalah bentuk apresiasi terhadap optimisme kita saat berhasil reboot kembali setelah badai tersebut.
Membangun Ekosistem Seni yang Lebih "Asik"
Program fasilitasi dari BPK Kaltim ini adalah langkah awal yang sangat positif. Ini adalah upaya untuk mengubah stigma bahwa seni itu "eksklusif" dan "hanya buat orang kaya". Justru dengan pameran terbuka seperti ini, akses terhadap apresiasi seni jadi lebih demokratis. Kita semua, mulai dari pelajar, mahasiswa, sampai pekerja kantoran, punya hak yang sama untuk menikmati "data peradaban" ini.
Kalau kita bicara soal pengembangan pendidikan seni budaya, pameran ini adalah salah satu kurikulum hidup yang paling nyata. Mahasiswa seni nggak perlu lagi pusing mencari referensi sejarah, cukup datang ke Jalan Rifadin dan serap ilmunya langsung dari sang maestro. Ini adalah cara yang jauh lebih efektif daripada sekadar membaca buku sejarah yang penuh dengan tanggal-tanggal membosankan.
Mengapa Kamu Harus Datang ke Pameran Ini?
Pertama, ini adalah kesempatan langka melihat koleksi 55 tahun perjalanan kreatif seorang maestro dalam satu atap. Kedua, ini adalah kesempatan buat kamu belajar cara "melihat". Di dunia yang penuh dengan distraksi, kemampuan untuk fokus dan menghargai detail itu adalah superpower. Ketiga, siapa tahu setelah melihat karya Cadio Tarompo, kamu dapat inspirasi buat bikin karya sendiri?
Jangan lupa, seni itu ibarat gadget—semakin sering kita gunakan dan kita pelajari, semakin canggih pula cara kita memandang dunia. Pameran ini adalah tempat di mana teknologi (dalam hal ini teknik lukisan negatif) bertemu dengan tradisi (motif dan budaya Nusantara). Perpaduan ini sangat jarang ditemukan.
Jadi, buat kamu warga Samarinda atau siapa saja yang kebetulan sedang berada di Kaltim pada Juli 2026, jangan sampai kelewatan. Pameran Jejak Waktu ini bukan cuma soal lukisan, tapi soal merayakan sejarah yang masih bernapas. Datanglah, ajak teman-temanmu, dan buktikan sendiri bagaimana teknik "warna klise" itu bakal bikin ponselmu bekerja lebih keras untuk menangkap keindahan yang sebenarnya.
Ingat, sejarah bukan cuma tentang apa yang tertulis di buku teks sekolah, tapi tentang apa yang bisa kita lihat, rasakan, dan simpan dalam memori kita sebagai bagian dari identitas bangsa. Sampai jumpa di pameran Cadio Tarompo! Semoga perjalanan 55 tahun sang maestro bisa menjadi bahan bakar baru bagi kreativitas kita semua.
Catatan: Dukungan pemerintah terhadap pelaku budaya melalui UPT seperti BPK Kaltim adalah sinyal bagus bahwa kita tidak sedang berjalan sendirian. Mari terus dukung seniman lokal agar karya-karya mereka tetap menjadi mercusuar di tengah derasnya arus informasi global.
