
KONSUMSI buah-buahan secara berlebihan ternyata memiliki risiko kesehatan tersembunyi terkait kadar asam urat. Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Prof Antonius Suwanto, mengungkapkan bahwa kandungan fruktosa atau gula alami dalam buah dapat memicu peningkatan asam urat jika tidak dikonsumsi secara bijak.
Temukan lebih banyak
Antonius menjelaskan bahwa fruktosa memiliki jalur metabolisme yang berbeda dengan glukosa. Jika glukosa digunakan oleh hampir seluruh sel tubuh sebagai energi, fruktosa sebagian besar diproses langsung di hati untuk diubah menjadi lemak.
“Glukosa digunakan oleh berbagai sel tubuh sebagai sumber energi. Sementara fruktosa, sebagian besarnya dimetabolisme di hati melalui jalur khusus yang membuatnya dapat langsung diubah menjadi lemak,” ujar Prof Antonius sebagaimana dikutip dari laman resmi IPB University, Sabtu (27/6).
Proses pengolahan fruktosa di hati membutuhkan energi besar dalam bentuk adenosin trifosfat (ATP). Penggunaan ATP yang masif untuk memetabolisme fruktosa dalam jumlah tinggi akan menghasilkan senyawa sisa yang kemudian diubah tubuh menjadi asam urat.
“Kalau ada banyak fruktosa dikonsumsi, itu akan dijadikan lemak dan akhirnya akan ada produk sampingnya berupa asam urat,” tambahnya.
Lebih lanjut, tingginya kadar asam urat tidak hanya berdampak pada nyeri sendi atau penyakit gout. Kondisi ini juga dapat menghambat produksi nitric oxide, senyawa yang berfungsi menjaga kelenturan pembuluh darah. Penurunan nitric oxide menyebabkan pembuluh darah menjadi kaku, yang pada akhirnya berpotensi meningkatkan tekanan darah atau hipertensi.
Secara evolusi, kemampuan tubuh mengubah fruktosa menjadi lemak merupakan mekanisme bertahan hidup manusia purba untuk menyimpan cadangan energi saat makanan sulit didapat. Namun, di era modern, fruktosa sangat mudah ditemukan baik dari buah maupun makanan olahan dan minuman berpemanis.
Meski demikian, masyarakat diimbau untuk tidak takut mengonsumsi buah. Kuncinya terletak pada pola makan seimbang dan pembatasan asupan gula harian. Dengan konsumsi yang terkendali, manfaat vitamin, mineral, dan serat dari buah tetap dapat diperoleh secara optimal tanpa meningkatkan risiko gangguan metabolisme. (IPB University/Z-10)
