Pernah nggak sih kamu ngebayangin kalau kamu makan nasi goreng, tapi isinya cuma nasi doang? Nggak ada bakso, nggak ada telur, nggak ada suwiran ayam, apalagi irisan cabe yang bikin nagih. Hambar banget, kan? Ibarat kata, makan nasi goreng kayak gitu tuh kayak hidup di kota besar tanpa keberagaman. Rasanya datar, membosankan, dan pastinya nggak bakal ada yang mau pesan lagi. Nah, itulah kenapa Rano Karno, sang Wakil Gubernur DKI Jakarta, baru-baru ini kasih pengingat penting buat kita semua di sela-sela kemeriahan Karnaval dan Pawai Budaya Sarendo-Rendo 2026 di Bundaran HI.
Beliau bilang, Jakarta itu ibarat melting pot raksasa. Kalau di dapur rumah kita cuma punya satu jenis bumbu, ya masakan kita nggak bakal bisa jadi hidangan kelas dunia. Jakarta bukan cuma milik orang Betawi saja, tapi ada teman-teman dari Jawa, Bugis, Tionghoa, Ambon, sampai Bali yang sudah lama "numpang" (atau malah sudah jadi warga tetap) di sini. Semua "bumbu-bumbu" inilah yang bikin Jakarta punya rasa yang unik dan nggak dimiliki kota lain di dunia.
Sarendo-Rendo: Bukan Sekadar Jalan Bareng, Tapi Filosofi Hidup Berdampingan
Mungkin kamu bertanya-tanya, apa sih arti dari Sarendo-Rendo? Kedengarannya unik, ya? Ternyata, dalam bahasa Betawi, istilah ini punya arti berjalan bersama atau beramai-ramai dalam satu rombongan. Coba deh bayangkan kamu lagi ikut acara konser musik di stadion. Kita datang dari berbagai latar belakang, mungkin ada yang pakai kaos band metal, ada yang rapi pakai kemeja, ada yang bawa atribut komunitas, tapi pas musik mulai main, kita semua joget bareng. Nggak ada tuh yang nanya, "Eh, lu suku apa?" atau "Lu asalnya dari mana?". Semua larut dalam irama yang sama.
Itulah esensi dari Sarendo-Rendo yang mau ditekankan oleh Rano Karno. Di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang sering bikin kita stres karena macet atau deadline kerjaan yang numpuk, kegiatan seperti pawai budaya ini jadi "oase" buat kita. Ini adalah ruang bagi para seniman dan pelaku budaya untuk unjuk gigi. Kalau kita nggak punya ruang buat berekspresi, lama-lama tradisi itu bakal punah, persis seperti kaset pita yang kalau nggak pernah diputar, pitanya bakal kusut dan akhirnya nggak bisa bunyi lagi.
Kalau kamu tertarik buat tahu lebih banyak soal bagaimana menjaga tradisi di tengah gempuran modernitas, coba deh cek tulisan saya di Tips Melestarikan Budaya Lokal di Era Digital biar kita makin melek kalau budaya itu bukan cuma soal baju adat, tapi soal identitas.
Kenapa Harus Jadi "Kota Global" Tapi Nggak Boleh Lupa Akar?
Sekarang ini, pemerintah lagi gencar-gencarnya pengen bikin Jakarta jadi Kota Global. Mungkin di telinga orang awam, istilah ini kedengarannya berat banget, kayak disuruh ujian mata pelajaran sejarah pas lagi ngantuk-ngantuknya. Padahal, simpelnya begini: jadi kota global itu artinya Jakarta harus punya fasilitas, sistem, dan konektivitas yang jempolan kayak New York, Tokyo, atau London, tapi tetap punya "jiwa".
Bayangkan sebuah smartphone canggih terbaru dengan prosesor super cepat, kamera 200MP, dan layar yang bening banget. Tapi, kalau casing-nya polos doang tanpa ada ciri khas, ya bakal kalah bersaing sama desain yang punya karakter unik. Jakarta itu hardware-nya adalah gedung pencakar langit dan transportasi umum, tapi software-nya adalah kebudayaan. Kalau kita cuma ngejar hardware-nya doang tapi lupa sama software-nya, ya kita cuma jadi "peniru" kota lain.
Rano Karno dengan tegas bilang, Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 sudah jadi pegangan kita. Kita ingin Jakarta maju, modern, dan punya sistem digital yang keren, tapi akar budaya kita harus tetap kuat. Ibarat pohon, semakin tinggi dia tumbuh ke langit (jadi kota global), akarnya harus semakin dalam menancap ke bumi (budaya lokal). Kalau akarnya dangkal, kena angin kencang dikit, tumbang deh.
Kejutan dari 100 Raja dan Sultan di Bundaran HI
Yang paling seru dari perayaan kali ini adalah kehadiran sekitar 100 raja dan sultan dari berbagai daerah di Nusantara. Coba bayangkan, Bundaran HI yang biasanya cuma jadi tempat buat lari pagi atau tempat orang-orang janjian car free day, tiba-tiba berubah jadi panggung kerajaan yang megah. Mereka datang lewat Forum Silaturahmi Keraton Nusantara.
Bagi kita yang sehari-harinya cuma berurusan dengan layar laptop dan chat WhatsApp, melihat langsung bagaimana para pemangku adat ini berpakaian dan berinteraksi itu adalah pengalaman yang "mahal". Ini bukan cuma soal baju tradisional yang mewah, tapi soal sejarah panjang yang dibawa oleh setiap orang. Mereka adalah "hard drive" berjalan yang menyimpan data-data sejarah bangsa kita.
Kehadiran mereka ini seolah mau bilang ke generasi muda, "Eh, kita punya kekayaan yang luar biasa lho, jangan cuma sibuk scrolling TikTok saja!". Dengan adanya pawai budaya ini, kita diajak buat sejenak "rehat" dari dunia digital dan kembali menyentuh realita bahwa Indonesia itu sangat luas dan penuh warna.
Jakarta Penuh Warna: Program yang Bikin Kota Nggak Monoton
Pemprov DKI Jakarta sebenarnya sudah punya program bernama Jakarta Penuh Warna. Mungkin banyak dari kita yang belum ngeh atau cuma sekilas lihat posternya di jalanan. Program ini sebenarnya adalah "wadah" bagi komunitas-komunitas budaya buat unjuk aksi.
Kenapa ini penting? Karena di Jakarta, seringkali kita terjebak dalam "gelembung" masing-masing. Anak seniman berkumpul sama anak seniman, anak kantoran sama anak kantoran. Jarang banget ada momen di mana kita semua benar-benar kumpul dan berinteraksi. Jakarta Penuh Warna ini adalah cara pemerintah buat "memecahkan" gelembung itu.
Bayangkan Jakarta ini sebuah kanvas raksasa. Kalau cuma dikasih warna putih, ya bosan. Tapi kalau setiap suku dan komunitas diberikan cat warna-warni, hasilnya bakal jadi lukisan yang indah banget. Inilah visi yang ingin diwujudkan agar Jakarta tidak hanya sekadar tempat cari duit, tapi juga tempat untuk merayakan hidup dalam keberagaman.
Belajar dari Budaya: Literasi, Toleransi, dan Masa Depan
Ngomongin soal budaya memang nggak bisa lepas dari soal literasi. Kita harus banyak baca, banyak riset, biar nggak gampang kemakan hoaks yang suka memecah belah. Ingat, budaya itu dinamis. Dia bukan barang mati yang ditaruh di museum, tapi sesuatu yang hidup dan berkembang bersama kita.
Kalau kita paham sejarah, kita bakal lebih toleran. Kita bakal sadar kalau perbedaan itu adalah fitur, bukan bug (kesalahan sistem). Dalam bahasa pemrograman, perbedaan latar belakang kita itu seperti multi-threading yang bikin sistem (kota) kita lebih efisien dan canggih kalau dikelola dengan benar. Tapi kalau kita egois dan cuma mau menonjolkan diri sendiri, sistemnya bakal crash.
Jadi, buat kamu yang tinggal di Jakarta, yuk, jangan cuma jadi penonton. Ikutlah berpartisipasi kalau ada acara budaya. Jangan cuma datang buat foto-foto buat Instagram saja (meskipun itu oke-oke saja, sih), tapi cobalah buat ngobrol sama orang baru, pelajari hal baru dari budaya yang berbeda. Mungkin saja, dari obrolan singkat itu, kamu nemu inspirasi baru buat karya kamu selanjutnya.
Untuk kamu yang masih penasaran bagaimana cara kita bisa tetap relevan di tengah perubahan zaman, silakan intip juga ulasan saya tentang Mengapa Literasi Budaya Sangat Penting di Era Globalisasi agar kamu punya perspektif yang lebih luas lagi.
Kesimpulan: Mari Berjalan Bersama, Sarendo-Rendo!
Pada akhirnya, apa yang disampaikan oleh Rano Karno adalah pesan sederhana namun mendalam buat kita semua. Menjaga keberagaman bukan tugas pemerintah sendirian. Itu tugas kita semua sebagai warga Jakarta. Kalau bukan kita yang bangga sama budaya kita sendiri, siapa lagi? Masa iya kita harus nunggu budaya kita diklaim negara lain dulu baru kita heboh?
Mari kita jadikan Jakarta sebagai rumah yang nyaman buat siapa saja. Rumah di mana kita bisa makan soto Betawi di pagi hari, makan pempek di siang hari, dan makan bakso di malam hari tanpa perlu merasa ada sekat yang membatasi. Mari kita terus berjalan Sarendo-Rendo, melangkah bersama menuju masa depan yang lebih cerah, di mana Jakarta nggak cuma jadi kota yang maju secara ekonomi, tapi juga kaya secara jiwa.
Jadi, sudah siap buat jadi bagian dari Jakarta yang lebih berwarna? Yuk, mulai dari hal kecil: hargai tetangga sebelah, pelajari tradisi di sekitar kita, dan jangan pernah berhenti untuk penasaran. Karena di Jakarta, setiap sudutnya menyimpan cerita, dan setiap ceritanya adalah bagian dari identitas kita sebagai bangsa yang besar. Sampai jumpa di pawai budaya berikutnya!
